MADRID – Stadion Santiago Bernabeu kembali membuktikan tuahnya sebagai tempat di mana kemustahilan menjadi nyata. Dalam laga leg kedua semifinal Liga Champions yang akan dikenang sepanjang masa, Real Madrid berhasil membalikkan keadaan secara dramatis untuk menyingkirkan Manchester City dan mengamankan tiket ke partai final.
Dominasi City yang Berakhir Tragis Manchester City sebenarnya tampil sangat dominan sepanjang laga. Hingga menit ke-89, tim asuhan Pep Guardiola sudah merasa di atas angin setelah Riyad Mahrez mencetak gol di menit ke-73, yang membuat City unggul agregat 5-3. Ribuan pendukung Madrid di tribun bahkan sudah ada yang mulai meninggalkan stadion, merasa perjalanan tim kesayangannya telah berakhir.
Dua Menit yang Mengubah Sejarah Namun, Real Madrid adalah raja Eropa karena sebuah alasan. Keajaiban dimulai tepat di menit ke-90. Pemain pengganti, Rodrygo Goes, secara mengejutkan mencetak dua gol hanya dalam waktu dua menit saja! Gol pertama lahir dari sontekan jarak dekat, dan sebelum City sempat bernapas, Rodrygo kembali membobol gawang Ederson lewat sundulan maut yang memanfaatkan umpan silang Marco Asensio. Skor agregat menjadi imbang 5-5, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan waktu (extra time).
Mentalitas Sang Raja Memasuki babak tambahan, mental Manchester City terlihat sudah hancur lebur. Sebaliknya, Real Madrid tampil seperti singa yang baru terbangun. Puncaknya, Karim Benzema dijatuhkan di kotak terlarang oleh Ruben Dias. Benzema yang bertindak sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan dingin.
Skor berakhir 3-1 (Agregat 6-5) untuk kemenangan Real Madrid. Manchester City, yang bermain sangat rapi selama 179 menit, harus menangis karena hancur hanya dalam waktu singkat oleh semangat pantang menyerah Los Blancos.
Akhir Perjalanan Tragis Pep Guardiola Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Pep Guardiola. City yang mendominasi statistik pertandingan harus mengakui bahwa di Liga Champions, pengalaman dan mentalitas juara seringkali lebih menentukan daripada sekadar penguasaan bola. Real Madrid kembali membuktikan bahwa mereka tidak pernah benar-benar "mati" sebelum peluit akhir dibunyikan.
