AMSTERDAM – Sepak bola terkadang sangat kejam, namun di saat yang sama, ia bisa menjadi pertunjukan paling indah di muka bumi. Itulah yang terjadi di Johan Cruyff Arena saat Ajax Amsterdam menjamu Tottenham Hotspur dalam laga yang akan dikenang selamanya sebagai salah satu drama terbesar di Liga Champions.
Mimpi Indah Ajax yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk Ajax memulai laga dengan kepercayaan diri tinggi. Membawa modal kemenangan 1-0 di leg pertama, mereka seolah sudah menapakkan satu kaki di final saat Matthijs de Ligt dan Hakim Ziyech membawa Ajax unggul 2-0 di babak pertama (Agregat 3-0). Pendukung tuan rumah sudah mulai berpesta, nyanyian kemenangan menggema di seluruh stadion.
Namun, mereka lupa bahwa dalam sepak bola, 90 menit adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah keajaiban.
Lucas Moura: Pahlawan dari Antah Berantah Di babak kedua, Tottenham keluar dengan semangat singa yang terluka. Harapan mulai muncul saat Lucas Moura mencetak gol pertama di menit ke-55, disusul gol kedua hanya empat menit kemudian. Skor menjadi 2-2, dan agregat berubah menjadi 3-2. Tiba-tiba, keheningan mulai merayap di tribun penonton Amsterdam. Ajax hanya butuh bertahan, namun Tottenham terus membombardir tanpa henti.
Menit 90+6: Detik-detik yang Menghentikan Jantung Saat ofisial pertandingan memberikan tambahan waktu lima menit, Ajax masih memegang kendali. Namun, tepat di detik terakhir tambahan waktu (menit ke-90+6), sebuah kemelut terjadi. Bola liar jatuh ke kaki Lucas Moura di dalam kotak penalti.
Dengan satu sepakan mendatar yang presisi, bola meluncur melewati kiper Andre Onana. GOL! Skor berubah menjadi 2-3 (Agregat 3-3). Tottenham unggul agresivitas gol tandang di detik paling kritis dalam sejarah klub mereka.
Tangisan dan Kebahagiaan Peluit panjang berbunyi. Para pemain Ajax langsung ambruk ke tanah, menangis tak percaya bagaimana keunggulan tiga gol bisa sirna dalam sekejap. Di sisi lain, Mauricio Pochettino berlutut di lapangan sambil menangis tersedu-sedu menyaksikan anak asuhnya melakukan comeback paling mustahil abad ini.
Malam itu di Amsterdam menjadi bukti nyata: Jangan pernah beranjak dari kursi Anda sebelum peluit akhir dibunyikan, karena keajaiban selalu punya cara untuk datang di detik terakhir.
